Selasa, 19 Oktober 2010

SOSIOLOGI INDUSTRI


BAB I
PENDAHULUAN
Sosiologi memusatkan perhatian kepada tindakan-tindakan manusia yang terbingkai dalam sejumlah aturan-aturan yang dibangun oleh sekumpulan manusia itu sendiri. Tindakan manusia juga terbingkai di dalam struktur sosial. Namun, sosiologi juga memperhatikan aspek dinamis dari tindakan. Individu mempunyai kemungkinan untuk mengelola tindakannya. Perspektif ini membuat sosiologi bersifat ganda. Meskipun begitu, di antara keduanya terdapat keterkaitan yang sangat erat.
Perkembangan sosiologi tidak dapat dilepaskan dari pemikiran para tokoh sosiologi klasik yang memberi sumbangan berharga melalui pengamatan mereka terhadap perubahan-perubahan besar di masyarakat Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! Agar Anda lebih memahami materi Kegiatan Belajar 1, coba Anda jelaskan kembali materi Kegiatan Belajar 1 dengan bahasa Anda sendiri. Anda juga harus menjelaskan konsepkonsep penting dalam materi 1 khususnya di Eropa. Revolusi industri dan berbagai revolusi sosial politik lainnya di negara Eropa menghasilkan beragam cara pandang di antara para sosiolog klasik mengenai perkembangan kapitalisme, rasionalisme, serta perubahan struktur sosial. Perubahan-perubahan yang terjadi baik di tingkat masyarakat maupun khususnya di dalam organisasi kerja memberi sumbangan yang berarti bagi pengembangan sosiologi industri.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Teori-teori dalam Sosiologi Industri
Sosiologi industri mempunyai cakupan teori yang sangat luas. Ada tiga penyebab luas cakupan tersebut. Pertama, cakupan substansi yang dibahas di dalam sosiologi industri cukup luas. Kedua adanya perbedaan tingkat analisis yang menghasilkan keragaman berbagai teori. Ketiga adalah karena teori-teori yang digunakan di dalam sosiologi industri memiliki keragaman berdasarkan asal pemikirannya. Luasnya cakupan seluruh teori yang digunakan di dalam analisis-analisis sosiologi industri itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori pendekatan. Pertama, pendekatan non-sosiologis. Kedua, pendekatan sosiologis. Ketiga, pendekatan hubungan industrial.
Pendekatan non-sosiologis di pelopori oleh kehadiran teori-teori yang mempunyai basis analisis psikologis. Pertama dan paling populer adalah teori manajemen ilmiah atau Taylorisme. Kedua adalah psikologi-manajerial. Sementara itu, teori-teori yang berbasis pendekatan sosiologis dapat dilihat dari teori Durkheim yang berpengaruh terhadap kategori teori hubungan antara manusia dari Elton Mayo, teori Dunlop. Selain itu, teori-teori Max Weber dan Karl marx, sedangkan teori-teori berpendekatan hubungan industrial, terbagi ke dalam kelompok pemikiran unitaris, pluralis, dan radikalis.
Pengalaman Historis Tiga Negara Besar di Eropa abad 17 3 negara besar Eropa (Inggris, Perancis, dan Jerman) dalam proses industrialisasinya memiliki  perkembangan yang BERBEDA. Inggris merupakan negara pertama yang mencapai taraf pemerintahan yang demokratis. Revolusi Perancis terjadi karena negara itu tidak demokratis.
Di Inggris, perjuangan politik berlangsung mulai awal abad 17. Titik kulminasinya adalah Revolusi yang dimulai pada tahun 1640. Akibat Revolusi: tergantinya struktur politik lama dengan struktur yang baru. Yaitu hilangnya restriksi lama dengan berpindahnya kekuasaan politik ke tangan kaum kapitalis dan borjuis, yang kemudian beraliansi dengan seksi aristokrasi yang lebih progresif.
Akibatnya perkembangan ekonomi di Inggris maju dengan pesat. Abad 18, inovasi teknologi mendorong metamorfosis dalam organisasi industri  inovasi ini berpengaruh terhadap penyebaran mesin-mesin danàmanufaktur  hasil industri pabrik. Industri manufaktur kapas menjadikan Inggris sebagai negara maju dalam perkembangan industrial.


B.     Tokoh Dalam Sosiologi Industri
Karl Marx sbg.inspirasi dominan dibalik “fungsionalisme struktural”. Durkheim sbg. Akar dari pandangan varian-varian modern dari fenomenologi. Max Weber KARL MARX Walau tidak secara eksplisit menyebut “hubungan-hubungan industrial”, ia menyangkal assumsi para ekonom para ekonom yang berargumen bahwa: kondisi karakteristik produksi kapitalisme dapat diatributkan pada segala tipe ekonomi. Premis-premis pertukaran ekonomis (al.: privat, pengejaran profit) yang dianggap sebagai karakteristik natural manusia.
Menurut Marx:
Formasi pertukaran ekonomis adalah hasil dari sebuah proses historis, shg. Kapitalisme merupakan bentuk sistem produksi yang khas dalam sejarah manusia. (karena masih ada sistem produksi lain tertentu dari sistem produksi). Obyek-obyek fisik membentuk elemen-elemen di dalam suatu rangkaian yang pasti dari  modal, komoditi, hargaàhubungan-hubungan sosial. (bukan spt. Ekonom:  tidak tergantung pada mediasi manusia.).
Aktivitas produksi merupakan hubungan dialektis antara kekuatan produksi (produktive forces) dan hubungan-hubungan produksi sebagai basis atau substruktur. Superstrukturnya adalah: ideologi, hukum, religi, institusi-institusi politik, dan budaya. Yang dimaksud dengan kekuatan produksi adalah cara-cara material maupun tenaga manusia dalam produksi.
Kondisi  shg kekuatan produksi akan membawa kepada modus produksi tertentu.  bisa dibedakan aktivitas-aktivitas produktif (produksi subsistem ataukah produksi industrial). Hubungan-hubungan produksi tidak hanya eksis antara manusia dengan alam, tetapi juga antara manusia dengan manusia lainnya.
Hubungan produksi terbentuk dari kepemilikan ekonomis atas kekuatan produktif.  kapitalis memiliki alat produksi, buruh hanya memiliki tenaga kerja. Artinya; buruh bergantung pada para kapitalis, Modus kapitalis dalam produksi berakibat pada pembagian kelas antara KELAS PEKERJA atau PROLETARIAT dengan KELAS KAPITALIS atau BORJUIS.
Hubungan KELAS ini menjadi KONFLIKTUAL karena para buruh dipaksa menjalin hubungan yang TIDAK SEDERAJAT.

EMILE DURKHEIM
Durkheim tidak secara langsung berbicara mengenai fenomena yang berhubungan dengan ruang produksi industri manufaktur, tetapi berkaitan dengan perkembangan umum masyarakat industrial modern.
Konsep Durkheim tentang “pembagian kerja” (division of labour) sebenarnya adalah konsep dari pemikir terdahulu dalam studinya tentang proses produksi industrial. (al. Plato, Aristoteles, Adam Smith, August Comte, dan Karl Mark). Smith spesialisasi teknis dalam bidang produksi akan meningkatkanà produktivitas kerja. (tentang spesialisasi ekstrim dalam proses manufaktur). Comte  pembagian kerja akan memperkuat solidaritas sosial dengan caraà menciptakan hubungan-hubungan dependensi timbal balik diantara individu-individu.
pembagian kerja memproduksi konflik sosial dan merupakan kausa prima  ketidaksederajatan sosial dan alienasi.àMark  Menurut Durkheim, pembagian kerja dan differensiasi fungsional dari peran-peran individu menciptakan integrasi sosial di dalam masyarakat modern. (kontras dengan pemikiran Mark). dipengaruhi oleh pemikir sosil Perancias dan Jerman al.: Rousseau, Saint Simon, Auguste Comte, Herbert Spencer, Schaffle, serta Lilienfeld.

C.     Pokok-Pokok Pikiran Durkheim
Masyarakat membentuk suatu kesatuan terintegrasi yang dalam beberapa hal dapat diperbandingkan dengan sebuah organisme hidup, bukan hanya mengakar pada masyarakat merupakan realitas suiàinteraksi-interaksi individual.  generis; memiliki karakteristik khas tersendiri, representasi yang diekspresikan mempunyai “isi” yang berbeda dari yang murni bersifat individual.
Masyarakat memiliki properti spesifik yang dapat dipisahkan dari milik anggota individualnya. Masyarakat terikat menjadi suatu kesatuan bukan karena hubungan material, tetapi karena pertalian IDE-IDE, PERASAAN, KEPERCAYAAN MORAL TRADISIONAL, dan CITA-CITA membentuk warisan budaya para anggota masyarakat tersebut. kesemuanya tumbuh secara sosial, bukan merupakan hasil/properti individu tertentu. Masyarakat bersifat impersonal dan memiliki properti CONSCIENCE COLLECTIVE (kesadaran Kolektif/suara hati masyarakat) yang berbedadengan kesadaran individual.
(Conscience collective = kesatuan erat yang terbentuk dari pikiran-pikiran individual sebagai elemen-elemennya) Perubahan sosial dapat dideskripsikan dengan membedakan menjadi 2 (dua) tipe solidaritas sosial; solidaritas MEKANIS dan solidaritas ORGANIS.
  • Solidaritas mekanis didasarkan pada homogenitas moral dan sosial, sehingga berciri; tradisional, non individualistik/ komunal, keadilan kolektif, properti bersifat komunal, kehendak komunitas mendominai kehendak individu, kekerabatan, lokalisme, sakral.
  • Solidaritas organis, masyarakat didasarkan pada individu-individu dengan fungsi yang berbeda yang dipersatukan oleh peran-peran komplementer. Sehingga berciri; personal, kesamaan kesempatan serta kesederajatan, regulasi kooperasi serta pertukaran, keseimbangan tugas dan kewajiban dan, otonomi berserikat.
DURKHEIM memandang pabrik dalam kerangka kerjanya dengan analogi ORGANIS. organisasi industrial adalah bagian dari sistem sosial atau sosio-teknis (dari suatu pabrik).
Sehingga hanya dengan partisipasi pekerja individual dalam manajemen perusahaan sebuah integrasi sistematis dapat diperoleh. MAX WEBER Merupakan tokoh yang memikirkan “PEMAHAMAN EMPATETIK terhadap

D.    Tindakan Sosial
Adalah essensial untuk membaca basis subjektif yang mendasari tindakan sosial. Pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial mengacu kepada arti subjektifnya yang diarahkan kepada individu-individu atau kelompok-kelompok lain.
Pemikiran Weber:
Rasionalisasi sebagai dasar terjadinya perubahan sosial. Hubungan-hubungan sosial mempengaruhi serta dipengaruhi oleh pertumbuhan rasionalisasi. selanjutnya menentukan arah/bentuk pada hubungan sosial dengan (institusi). Tingkah laku kapitalis rasional menimbulkan konsekwensi dalam wilayah organisasi sosial yang kemudian menyuburkan persebaran BIROKRASI
Pembagian kerja yang terdiferensiasi mengkarakterisasikan kapitalisme. Sistem kelas yang muncul sebagai akibat dari pembagian kerja ditandai oleh birokrasi sebagai nuansa (feature) kapitalisme modern yang paling integral. Setiap bentuk organisasi yang memiliki hierarki serta otoritas dapat menjadi subjek sebuah proses expropriation (=pengambilalihan/penggantian) “alat produksi” dalam istilah Marx, diganti dengan “alat administrasi”. Weber berbicara mengenai “dominasi” dan “subordinasi” sebagai ganti “hubungan-hubungan produksi”.
Menekankan  karena birokrasi adalahàpentingnya “organisasi” dan “birokrasi’. ( “human machine” yang meletakkan organisasi sosial manusia pada tingkat yang sama dengan rasionalitas formal teknologi di dalam dunia material). Kemajuan birokratisasi menunjukkan “tekanan” antara tuntutan efisiensi teknologi administrasi vs nilai-nilai manusia mengenai spontanitas serta otonomi.  pada akhirnya birokrasi akan membentuk “sangkar besi” (iron cage)yang membatasi kebebasan dalam kapitalisme modern.




BAB III
PENUTUP

            Terdapat keterkaitan antara perubahan-perubahan sosial, ekonomi,dan politis dalam era industrialisasi awal. Perbedaan latar belakang historis di Inggris, Perancis serta Jerman menjadi penyebab perbedaan jalan perkembangan industrial di 3 negara tersebut.
Polarisasi sosial yang ekstrim membawa perubahan politis revolusioner di Inggris dari sebuah koalisi antara kelas-kelas kapitalis dengan aristokratis.
Jerman, masyarakat agraris ditransformasikan menjadi masyarakat industrial “dari atas” oleh rezim monarkhis.
Hubungan historis antara bentuk-bentuk pemerintahan yang berbeda-beda dari negara tsb. Yaitu, aristokratis-monarkhis atau borjuis-kapitalis, dan relevan untuk mengaàpopulasi pekerja industrial nalisis fenomena hubungan industrial dewasa ini.
Dalam perkembangan industrialisasi, industri manufaktur tumbuh dan mengubah  sumbangan sektor pertanianàindustri menjadi sektor utama perekonomian,  dalam produksi ekonomis menurun. Lowongan pekerjaan bergeser dari sektor agriculture ke sektor manufaktur.
Perkembangan ekonomi terjadi melalui sistem “pertumbuhan” bukan “pemerataan”

 DAFTAR PUSTAKA

Aditjondro, J. George. 2003. Pola-Pola Gerakan Lingkungan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Faisal, Sanafiah. 2003. Format-Format Penelitian Sosial. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
elearning.unej.ac.id/courses/CLe636/document/SOSIOLOGI_INDUSTRI.ppt? cidReq=CL358c -

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar