Minggu, 24 Oktober 2010

CURAH HUJAN DAN PANAS


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Negara Indoensia pada saat ini sedang mengalami musim penghujan, sehingga banyak terjadi bencana alam di mana-mana seperti banjir, tanah longsor, dll.
Pada bulan April dan Mei kita rasakan suatu fenomena luar biasa apalagi sampai bulan Juni masih hujan. Perubahan musim yang biasanya terjadi sesuai dengan bulan-bulan langganan musim hujan atau panas.
Jumlah curah hujan setiap bulan selama satu tahun sering berbeda, satu bulan bila banyak curah hujannya kurnag dari 60 mm di sebut bulan kerang, bila banyak curha hujannya antara 60-100 mm disebut bulan lebab, dna bila banyak curha hujannya lebih dari 100 mm disebut bulan basah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian curah hujan?
2.      Apa yang terjadi ketika ada ekstremitas perubahan musim?
3.      Kenapa iklim dapat berubah?

C.     Tujuan
Untuk mengetahui perubahan cuaca dan iklim

D.    Manfaatnya
Dengan pembuatan makalah ini kita dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam pelajaran hidrologi dasar.

BAB II
PEMBAHASAN

Hujan di bulan April dan Mei kita rasakan suatu fenomena luar biasa apalagi sampai bulan Juni maka masih hujan bagi kit aorang awam menganggap suatu keanehan. Usia saya hampir setengah abad (48 tahun) berarti sudah sekian kali merasakan rutinitas pergantian musim tropis dari musim hujan berubah panas dan sebaliknya, perubahan musim yang biasa terjadi sesuai dengan bulan-bulan langanan musim hujan atau panas.
Fenomena alam saat ini seolah-olah semua hari menjadi musim hujan, kondisi ini kita masih boleh bersyukur karena tiap hari secara umum kebutuhan air masih mudah, coba kita bayangkan andai saja terjadi giliran perubahan yaitu tiap hari musim kemarau. Taruhlah selama tahun 2011 musim kemarau dengan hari-hari selalu tanpa huan, bagaimana kita mensikapi dengan keterbatasan air (mudah-mudahan tidak terjadi)

Ekstremitas Perubahan Musim
Banjir yang menerjang sejumlah daerah pada Mei in, bagaimanapun adalah bagian dari akibat ekstremitas perubahan musim yang dalam beberapa tahun terakhir telah kita rasakan. Biasanya, menurut ilmu titen masyarakat, hujan di daerah seperti Kota Semarang akan memuncak pada bulan-bulan Januari-Februari, lalu Maret hingga April masuk ke transisi musim panas, dan Mei sudah memasuki kemarau.
Genangan air di sejumlah daerah cenderung meninggi karena curah hujan yang juga tinggi. Apakah ini anomali musim atau kondisi yang sudah bisa di prediksi, kiranya kesiapan untuk menghadapi realitas perubahan cuaca dan musim itulah yang perlu di persiapkan. Mulai dari penatalaksanaan kesiapan lingkungan keseharian, kalkulasi di bidang pertanian (termasuk pertambakan), dan adaptasi untuk menyiapkan pangan dalam menghadapi musim berikutnya boleh jadi juga masih dipengaruhi oleh kondisi yang tak menentu.
Pengamat lingkungan dari Universitas Muria Kudus, Hendy Hendro Sudjono yang menganalisis informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisikan Jawa tengah memperkirakan, sepekan mendatang curah hujan akan kembali meningkat. Dalam sebulan debit hujan cenderung meningkat diatas 50 milimeter, dan intensitasnya bisa terjadi setiap hari, terutama menjelang malam hingga pagi. Kondisi itu dipicu oleh tekanan rendah di Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik, yang menyebabkan hujan merata di sebagian wilayah Indonesia.
Perubahan musim  yang ekstrem itu bisa di indikasikan dari sejumlah fakta; hujan mundur hingga bulan-bulan yang seharusnya sudah memasuki masa transisi, atau musim kemarau masih memanggang justru pada bulan-bulan ketika udara biasanya mulai basah. Penjelasan-penjelasan ilmiah dari otoritas terkait bisa dibaca sebagai warning untuk merespons. Misalnya bagaimana menyikapinya terkait dengan adaptasi sektor pertanian dan pertambangan, juga bagaimaan seharusnya kearifan kita dalam memperlakukan lingkungan.
Pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan, mungkin akan menemukan muara ”kambing hitam” secara mudah, dengan mengatakan apa yang terjadi sekarang merupakan akibat dari pengaruh pemanasan gelobal. Padahal munculnya kondisi-kondisi tertentu yang mudah menyebabkan banjir misalnya tentu tidak mungkin tanpa adanya pemicu dari sikap-sikap manusia. Mulai dari berbagai keputusan tentang kebijakan tata ruang, kebijakan ekonomi dan naluri eksploitatif manusia.
Apa yang kita rasakan sekarang, kekacauan tata ruang di sejumlah wilayah, produk sektor pertanian yang sulit di prediksi karena anomali musim, atau lingkungan permukiman yang tidak sehat, bagaimanapun tidak lepas dari realitas teori sebab akibat. Benar, fenomena pemanasan global memang member iandil  besar bagi hilangnya keseimbangan ekosistem, namun ekstremitas perubahan musim seperti  fakta curah hujan tinggi justru pada bulan kering seperti sekarang, menuntut kearifan kita dalam menyikapinya.
Pemerintah Indoensia ketika meluncurkan negosiasi di Bali pada tahun 2007, mengakui peringatan ilmiah pada iklim untuk apa itu sirine panggilan untk ”bertindak sekarang, atau menghadapi yang terburuk”.
Bagaimana Iklim Dapat Berubah?
            Salah satu komponen iklim adalah temperatur. IPCC menemukan bahwa, selama 100 thaun terakhir (1906-2005) temperatur permukaan bumi rata-rata telah naik sekitar 0.740 C, dengan pemanasan yang lebih besar pada daratan dibandingkan lautan. Tingkat pemanasan, raa-rata selama 50 tahun terakhir hampir dua kali lipat dari yang terjadi pada 100 tahun terakhir. Akhir tahun 1990an dan awal abad 21 merupakan tahun-tahun terpanas sejak adanya arsip data modern. Peningkatan pemanasan sebesar 0,20 C diproyeksikan akan terjadi untuk setiap dekade pada dua dekade kedepan. Proyeksi tersebut di lakukan dengan beberapa skenario yang tidak memasukkan pengurangan emisi GRK.  Besar pemanasan yang terjadi setelahnya akan tergantung kepada jumlah GRK yang diemisikan ke atmosfer.
Mengapa suhu permukaan bumi bisa meningkat? Penelitian yang telah di lakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait langsung dengan efek rumah kaca yang merupakan hasil dari penyerapan energi oleh gas-gas tertentu yang terdapat di atmosfer (disebut gas rumah kaca karena gas-gas ini secara efektif ”menangkap” panas yang terdapat di atmosfer bagian bawah) dan meradiasikan kembali sebagian dari panas tersebut ke bumi. Gas rumah adalah salah satu kelompok gas dalam atmosfer yang dapat menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat. Sistem kerjanya adalah dengan mengembalikan pantulan sinar matahari dari permukan agar tetap berada dalam sistem atmosfer bumi. Kondisi atmosfer bumi yang hangat memungkinkan manusia dan mahluk hidup lainnya tumbuh dan berkembang biak. Dengan demikian, pada dasarny gas rumah kaca dan efeknya diperlukan untuk menjaga kehidupan di bumi. Tanpa adanya efek rumah kaca yang alami, suhu di permukaan bumi akan berada pada angka -180 C bukan seperti suhu saat ini. Masalahnya yang terjadi saat ini adalah konsentrasi gas rumah kaca semakin bertambah melebihi tingkat normal sehingga sebagian radiasi yang berasal dari matahari maupun permukaan bumi terjebak oleh gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan radiasi tidak dapat keluar angkasa dan kembali ke permukaan bumi sehingga memanaskan suhu bumi.
BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Jadi keadaan cuaca di Indonesia pada saat ini tidak teratur sehingga menyebabkan terjadinya bencana dimana-mana.

B.     Saran
Dalam makalah ini, saya membutuhkan saran dan kritik dari semua, karena dengan saran dan kritik yang bisa membaut semangat saya untuk dapat menyempurnakan segala sesuatu yang ingin saya lakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar